Idul adha : Momentum Perubahan Pribadi Muslim Part 1

logo-dac

Dua hari raya – idul adha dan  idul fitri – adalah dua hari yang ditetapkan berdasarkan syariat Allah SWT yang dipilih oleh-Nya untuk makhluknya. Dua hari raya ini adalah pengganti dari dua hari raya yang lebih dulu berlaku di masyarakat madinah pada masa jahiliyah. Dua hari raya ini lebih baik dari dua hari raya masyarakat Madinah semasa jahiliyah – nairuz dan marjan – dengan beberapa sebab :

Pertama : idul fitri dan idul adha berdasar pilihan Allah SWT untuk umat-Nya sedang nairuz dan marjan hanyalah pilihan kaum  bijak  pada waktu itu. Kedua : idul fitri dan idul adha mengiringi pelaksanaan dua rukun yang agung dalam rukun-rukun Islam yaitu  ibadah shaum dan haji sedang nairuz dan marjan hanya berdasar iklim yang teduh dan sejuk serta pertimbangan duniawi semata.

Idul fitri dan idul adha adalah dua hari raya umat Islam berdasar hadits yang diriwatkan An-Nasai dari Anas bin malik :

 عن أنس بن مالك قال : كان لأهل الجاهلية يومان في كل سنة يلعبون فيهما فلما قدم النبي صلى الله عليه و سلم المدينة قال كان لكم يومان تلعبون فيهما وقد أبدلكم الله بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم الأضحى .قال الشيخ الألباني : صحيح

Artinya : dari Anas bin Malik, ia berkata : pada masyarakat jahiliyah ada dua hari pada setiap tahunnya yang mana mereka bermain-main di dalamnya, ketika nabi SAW datang ke madinah, beliau bersabda : “ kalian punya dua hari yang mana kalian bermain-main di dalamnya dan sungguh Allah telah mengganti keduanya bagi kalian dengan dua hari yang lebih baik yaitu idul fitri dan idul Adha”.

Idul adha  adalah salah satu dari syiar Islam yang paling nyata dan didalamnya ada shalat id dan menyembelih binatang kurban yang merupakan bukti pengagungan kita kepada Allah SWT dan dalam rangka mensyukuri nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita. Allah SWT berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 185 :

ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم لعلكم تشكرون

Artinya : hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu adalah bukti dari ketaqwaan. Allah berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 32 :

ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب

Artinya : barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya timbul dari ketaqwaan hati

Salah satu tanda ketaqwaan adalah banyak bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan dengan berbagai macam amal shaleh yang salah satunya adalah shalat dan berkurban, ini tercermin dalam surat Al-Kautsar  ayat 1-2 :

إِنَّآ أَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

artinya : sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhan mu dan berkuirbanlah.

Al-kautsar dalam bahasa  Arab artinya الخير الكثير (kebaikan yang banyak). Begitu juga Al-Kautsar adalah nama sungai  yang terdapat di surga sebagaimana disebutkan dalam  hadits riwayat Imam Muslim dalam sahihnya dari Anas bin Malik dalam tafsir surat Al-Kautsar. Oleh karena itu kita disuruh untuk melaksanakan shalat dan berkurban dengan ikhlas (karena Tuhanmu) agar amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Sehingga dengan melaksanakan shalat dan berkurban inilah semakin tebal ketaqwaan seseorang karena sebenarnya darah dan daging serta binatang kurban hanyalah buah dari ketaqwaan dan ketaqwaan inilah yang akan dibalas oleh Allah SAW. Hal ini ditegaskan dalam surat Al-Hajj ayat 37 :

لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم

Artinya :  daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu.

Adha berasal dari kata “udhiyah” yaitu  menyembelih binatang kurban. Juga mirip dengan  kata “dhuha” yaitu waktu shalat dhuha, karena menyembelih binatang kurban setelah shalat ied dilaksanakan pada waktu dhuha. Sedangkan dalam keseharian kita lebih mengenal idul kurban yang berasal dari kata “qorroba” dan “taqorruban” yang artinya dekat,  ini sesuai dengan tujuan dari syariat ini yaitu dalam  rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Walaupun para ulama fiqih berbeda pendapat tentang hukum menyembelih binatang qurban, apakah itu wajib ain bagi yang mampu atau sunnah muakkadah,  tetapi kita sepatutnya berusaha menjalankan syiar Islam dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW karena beliau selama tinggal di Madinah tidak pernah meninggalkan syariat ini. Bisa kita baca dalam kitab fiqih ada satu bab yang bernama “ باب الأضحية سنة نحب لزومها ونكره تركها (bab udhiyah hukumnya sunnah tapi kami lebih suka melazimkannya dan kami tidak suka jika meninggalkannya). Hal ini karena ghirah para salafush shaleh untuk menghidupkan sunnah Nabi sangat tinggi sehingga mereka tidak meyepelekan dan tidak beranggapan mentang-mentang hukumnya sunnah.

Penyembelihan binatang kurban pada umat nabi Muhammad mengikuti sunnah Abul Anbiya (bapaknya para Nabi) yaitu Nabi Ibrahim as, ketika beliau dan Ismail lulus dalam ujian mimpi yang berisi perintah menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim adalah teladan umat dan Allah menyuruh nabi Muhammad untuk mengikuti syariat Nabi Ibrahim as, sebagaimana terdapat dalam surat An-Nahl ayat 123 :

ثم أوحينا إليك أن اتبع ملة إبراهيم حنيفا وما كان من المشركين

Artinya : kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah termasuk orang musyrik”.

Iklan