HAKIKAT PENCIPTAAN MANUSIA

Ketahuilah saudaraku, bahwa  Allah Ta’ala yang telah menciptakan kita. Kita tidaklah ada dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan, Begitu juga semua alam semesta ini. Langit dan bumi serta segala isinya ada yang menciptakan. Tidaklah kita diciptakan dengan  sia-sia dan senda gurau.Tidaklah kita diciptakan hanya untuk makan, minum, bercanda, tidur, bermain, berleha-leha dan tertawa. Akan tetapi Allah Ta’ala menciptakan mereka untuk menjalankan tugas yang mulia. Oleh karena itu, Allah Ta’ala tidaklah meninggalkan kita begitu saja tanpa petunjuk tapi Ia mengutus para Nabi yang membawa kitab pedoman hidup manusia. Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul {Muhammad} kepada kamu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun”. {Al-Muzzammil : 15}.

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah memberi tahu kita bahwa Ia menciptakan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya, mengesakan, mengagungkan dan menaati-Nya dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, tidak melanggar batasan-batasan (hukum)-Nya  dan tidak menyekutukan-Nya. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” {Adz-Dzariyat : 56}.

Maksud ibadah di sini adalah bertauhid yaitu mengesakan-Nya dan inilah inti dari ajaran para Rasul. Perkara inilah yang dibawa oleh para Rasul kepada umatnya. “dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat {untuk menyerukan}, “sembahlah Allah Ta’ala dan jauhilah tagut”, kemudian mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan rasul-rasul” {An-Nahl : 36}.

Bukti bahwa kita menjauhi tagut adalah berkeyakinan batilnya ibadah kepada selain Allah Ta’ala serta membenci dan meninggalkannya. Adapun makna menyembah Allah Ta’ala adalah berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala satu-satunya yang berhak disembah tidak ada selain Dia, mengikhlaskan semua amal hanya kepada-Nya, mencintai ahli tauhid dan membenci ahli syirik. Sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim “sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah Ta’ala, kami mengingkari {kekafiran}mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah Ta’ala saja ………” {Al-Mumtahanah : 4}

Bentuk tagut itu bermacam-macam mencakup semua yang disembah selain Allah Ta’ala. Adapun pangkal tagut ada lima :

1. Syetan – Iblis –  yang mengajak manusia beribadah kepada selain Allah Ta’ala

Allah Ta’ala Ta’ala berfirman : “bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan ? sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus. Dan sungguh, ia {setan itu} telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti? ” { Yasin : 60-62}

2. hakim yang durhaka yang merubah-rubah hukum Allah Ta’ala

Allah Ta’ala Ta’ala berfirman : “tidakkah engkau {Muhammad} memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka {dengan} kesesatan yang sejauh-jauhnya”. {An-Nisa : 60}

3. Orang yang berhukum pada selain hukum Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman : “……. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah Ta’ala, maka mereka itulah orang-orang kafir”. {Al-Maidah : 44}

4. yang mengaku mengetahui alam perkara ghaib

Allah Ta’ala berfirman : “Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya”. {Al-Jinn : 26-27}

Allah Ta’ala berfirman : “dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya ; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (lauh Mahfud)”. {Al-An’am : 59}

5. Orang yang disembah selain Allah Ta’ala dan ia ridha dengannya serta mengaku sebagai Tuhan selain Alllah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman : “dan barang siapa di antara mereka berkata, “sungguh, aku adalah tuhan selain Allah,” maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim”. {Al-Anbiya : 29}.

Manusia disebut orang yang beriman seutuhnya ketika ia benar-benar kufur kepada tagut . Allah Ta’ala berfirman : “tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada tagut dan beriman kepada Alllah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. {Al-Baqarah : 256}

Referensi :

  • Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Ensiklopedi Islam Al-Kamil, DarusSunnah.
  • Kumpulan makalah Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab, dkk, Majmu’atut Tauhid, Maktabatul Muayyad
Iklan